Waktu terus bergulir dan kini Republik Indonesia sudah berumur 66 tahun dan akan memasuki usia 67 tahun. Sebuah angka yang boleh dibilang cukup matang sebenarnya untuk mempraktekan demokrasi dalam arti sesungghnya.

Namun apa boleh dikata, dari tahun ke tahun kondisi Republik ini bukan membaik malah jauh lebih parah dari 10 tahun sebelumnya. Kemiskinan, kebodohan, gizi buruk, kriminalitas yang semakin meningkat, korupsi, kolusi, nepotisme.Hah, seperti bangsa yang menunggu mati.Mana kesejahteraan umum yang dijanjikan di Pembukaan Undang-Undang dasar 1945?

Ya, ya, ya….Cita-cita tinggal cita-cita. Tujuan tinggal tujuan. Katanya mau mencerdaskan kehidupan bangsa tapi untuk merealisasikan dana APBN untuk pendidikan 20 persen kok rasanya susah amat. Katanya mau mewujudkan negeri yang adil dan makmur tapi harga BBM kok malah dinaikan.

Kenapa Negeri kaya tapi Masyarakatnya Miskin : Orang bilang tanah kita tanah surge Tongkat kayu dan batu jadi tanaman ……..(Bimbo)

Sepenggal bait lagu yang dinyayikan kelompok anak negeri yang mencoba memahami kekayaan negerinya. Lagu ini menunjukkan betapa kaya dan suburnya negeri ini dan menjadi kebanggaan yang luar biasa untuk anak bangsa, sehingga menimbulkan pengharapan-pengharapan akan kesejahteraan dan kemakmuran yang akan di dapat di tanah yang subur dan kaya.

Jika mau dirujuk dan melihat dengan kondisi hari ini, dimana kemiskinan meraja lela di setiap lini kehidupan, seyogyanya negeri yang kaya ini mampu memberikan jawaban yang pasti akan kehidupan manusia yang hidup di dalamnya. Pertanyaan sedernaha kenapa dengan kekayaan alam yang luar biasa, tapi kenapa masyarakatnya masih banyak hidup dalam garis kemiskinan?

Lalu, apa artinya merdeka jika perut masih keroncongan menahan lapar?

Lalu, apa artinya merdeka jika anak-anak kita masih banyak yang buta huruf?

Lalu, apa artinya merdeka jika untuk sehat saja susahnya minta ampun?

Lalu, apa artinya merdeka jika wakil rakyatnya saja berjamaah mengkorup uang rakyat?

Lalu, apakah pantas Republik Indonesia tercinta ini dikatakan sudah benar-benar merdeka?