Tidak lama berselang sepulang dari menempuh pendidikan di sebuah pesantren, Yushar (nama samaran) berkenalan dengan seorang gadis dan kemudian ia jatuh cinta kepada Maria (nama samaran) gadis itu yang beragama kristen. Demi cintanya Maria pun melepaskan agamanya dan masuk agama Islam. Kemudian mereka menikah dan dikaruniai seorang anak.

Ada keinginan dalam diri Yushar untuk menge

tahui Islam lebih dalam, bukan sekedar tulisan tapi makna di balik tulisan. Yushar pun pergi ke rumah seorang kiai dan mengutarakan keinginannya untuk belajar kepada beliau tentang Islam lebih dalam.Awalnya pak kiai ini menolak, namun Yushar tetap memaksa. Akhirnya kiai ini pun mengiyakan permintaan Yushar dan pengajian ini dilaksanakan di rumah Yushar. Seminggu sekali atau terkadang dua kali pak kiai ini ke rumah Yushar memberikan uraian tentang makna ayat-ayat al-qur’an dan hadits berikut penerapannya dalam kehidupan dan tanpa diketahui pak kiai dan Yushar, ternyata Maria, istri Yushar mendengarkan dan menyimak apa-apa yang disampaikan pak kiai kepada Yushar.

Empat bulan kemudian, ketika Maria menunaikan shalat Maghrib. Setelah takbiratul ihrom, antara sadar dan tidak, tiba-tiba dia melihat di depan matanya seorang janda tua (mbah Iyem, tetangga yang rumahnya dekat sawah) dalam kesusahan dan menahan lapar. Seperti mimpi, namun begitu jelas tampak di depan mata. Setelah selesai sholat Maria menceritakan apa yang dialaminya dalam sholat kepada Yushar. Yushar pun tercengang, namun dia ingin membuktikan apakah yang dilihat Maria itu benar.

Yushar dan Maria bergegas pergi ke rumah janda tua tadi dengan membawa beras 5 kg dan uang 10 ribu (uang 10 ribu waktu itu senilai beras 15-20 kg). Dan ternyata benar, sesampai di rumah janda tua ini, Yushar dan Maria menjadi tahu bahwa mulai pagi sampai petang, mbah Iyem belum makan apa-apa karena memang tidak ada yang dimakan. Apa yang dilihat Maria dalam sholat bukanlah ilusi, tapi sebuah kenyataan. Yushar tercengang dengan kejadian yang dialami isterinya. Kemudian Yushar segera pergi menemui pak kiai dan menceritakan kejadian yang dialami istrinya.

Mendengar cerita itu pak kiai tersenyum dan berkata, “Siapa saja yang benar-benar melaksanakan ajaran Islam, Allah akan membuka apa-apa yang tidak diketahui manusia. setinggi apapun ilmu yang kamu miliki kalau hanya menempat di bibir itu sama saja dengan dongeng. Bahkan ilmu bisa menjadi penghalang manusia untuk mengenal dan mendekat kepada Allah, karena sifatnya yang angkuh dan sombong ”

Empat hari kemudian, pak kiai pergi ke rumah Yushar. Seperti biasa Maria menyuguhkan minuman dan makanan ringan. Setelah menyuguhkan minuman, Maria duduk di dekat suaminya dan bertanya kepada pak kiai, “Maaf pak kiai, sebelum ke sini, pak kiai tadi ke rumah temannya ya? Rumahnya gedong menghadap ke barat, pak kiai ke sana ada keperluan soal pekerjaan, apakah itu benar?” Pak kiai menjawab, “Tepat sekali”. Yushar tidak habis pikir dengan kelebihan yang dimiliki istrinya. “Yang belajar saya, tapi kok justru istri saya yang bisa?” tanya Yushar kepada pak kiai. Pak kiai menjawab, “Istrimu itu benar-benar melaksanakan ajaran Islam tanpa tolah-toleh kiri kanan, sedangkan kamu masih ada bintik-bintik hitam dalam hati yang belum engkau bersihkan.”

Tujuh bulan kemudian, Maria mulai sakit-sakitan, karena dari sebelum menikah dia mengidap penyakit asma.

Pada suatu hari pak kiai datang ke rumahnya, seperti biasanya Maria minta izin kepada suaminya untuk bicara empat mata kepada pak kiai, dan Yushar pun mengiyakan dan masuk kamar. Di ruang tamu hanya ada Maria dan pak kiai.

Maria mulai membuka pembicaraan, “Pak kiai, semalam saya dapat petunjuk dari Allah, bahwa bulan, tanggal , hari, dan jam sekian hidup saya telah berakhir, bagaimana menurut Panjenengan dan apa yang harus saya lakukan?” Pak kiai menjawab, “Iya, petunjuk itu benar, dan gunakan sisa hidup sampean untuk beribadah lebih semangat untuk menyambut masa depan yang lebih cerah”.

Ajalpun tiba, empat jam sebelum kedatangan malaikat maut, Maria pergi ke pasar, membeli apa-apa yang berkaitan dengan selamatan tahlilan dan tak lupa membeli kain kafan. setelah sampai di rumah ia menyempatkan menggendong dan menyusui anaknya yang masih kecil. Kemudian anak tadi diberikan kepada neneknya dan ia langsung mandi. Setelah mandi dan wudlu Maria masuk kamar dan shalat sunnah dua rakaat. Setelah selesai shalat ia berbaring dan kain kafan yang dibelinya tadi ditaruh di sampingnya, ajalpun datang menjemput, sesuai dengan petunjuk yg ia dapatkan…

Kisah ini terjadi pada tahun 1994, diceritakan oleh salah satu pelaku (pak kiai yang tidak pernah mau disebut namanya) sekitar 7 tahun yang lalu di daerah Banyuwangi. Semoga bermanfaat..!! (Nahdlatul Ulama)