Bissmillaahi Ar Rahmaan Ar Rahiim…
Nama gadis itu Azeezah, dia seorang gadis yang dibesarkan di tengah keluarga yang beragama. Dia tidak pernah membangkang pesan ayahnya yang menasihatinya agar tidak terbawa arus dan berkeinginan untuk Pacaran, karena ia yakin pesan ayahnya adalah untuk kebaikannya. Tak bisa di pungkiri Azeezah pun mempunyai rasa yang istimewa kepada teman sekolahnya, sebut saja namanya Doni ,namun Azeezah menganggapnya cinta monyet saja karena saat itu dia masih duduk di bangku SLTP.

Cowok yang Azeezah suka pun ternyata memiliki rasa yang sama, karena Doni sempat mengutarakan isi hatinya kepada Azeezah dan memintanya menjadi pacarnya, Namun Azeezah tidak bisa menerimanya.
” Maaf Don, Zee gak bisa.. Ayah selalu berpesan pada Zee, Jika ada seorang cowok yang ingin meminta Zee menjadi kekasihnya, maka ia harus datang ke rumah meminta izin kepada Ayah”
Doni pun menyanggupi, pas malam minggu tiba, Doni pun datang ke rumah Azeezah, dengan keyakinan di hati dan merasa diri pemberani dia pun melangkah gagah ke rumah Azeezah.

Ayah Azeezah baru saja selesai sholat Isya sepuluh menit yang lalu dan sengaja menunggu Doni di ruang tamu karena Azeezah telah memberitahukan kepada sang Ayah tentang maksud kedatangan Doni. Kemudian Doni mengutarakan maksud kedatangannya.
” Maaf pak, saya ingin meminta izin kepada Bapak agar Azeezah di izinkan menjadi Pacar saya, saya janji gak bakal macem-macem. Saya gak bakalan melakukan hal-hal yang di larang agama pak, saya janji dah.. Lagi pula bapak pasti tahu sendiri putri bapak kan gadis yang shalihah, dia gak bakalan melakukan hal-hal yang bikin bapak kecewa, gak semua pacaan itu kan selalu identik dengan maksiat Pak”

(Dalem hati Doni berharap si Bapak gak kolot-kolot amat, dan mau ngizinin anaknya pacaran, zaman udah berkembang begini masa kagak ngarti kalo remaja itu pasti pada pacaran, hehehe…)

Giliran Ayah Zee menjawab
“Don, bapak hargai keberanian kamu datang ke rumah bapak dan meminta izin langsung kepada bapak, tapi apa kamu pernah bertanya pada Zee, maukah dia menjadi Pacar kamu??”

“Emang Zee gak mau ya Pak?? Kalo Zee mau ya tinggal Bapak kasih izin aja pak gitu aja kok repot “(ucap Doni memelas)

“Zee itu anak saya, tapi dia bukan milik saya. Zee adalah titipan dari Allah, jadi Zee adalah milik Allah. Saya akan mengizinkan kamu Berpacaran dengan Zee dengan tiga syarat:
1. Datanglah kembali setelah engkau menjadi dewasa.
2. Dtanglah kembali setelah engkau siap meminta Izin kepada Allah untuk berpacaran dengan Zie.
3. Datanglah kembali setelah engkau bisa menjelaskan padaku apa saja hal-hal yang dilarang agama yang tidak boleh dilakukan selama Pacaran.

“Tapi Pak, sebelum saya datang kesini saya sudah minta izin ma Allah, agar mengizinkan saya dan Zee berpacaran” (bukan itu kalee maksudnya Don… dasar si Doni :D)
“Ayah Zee hanya tersenyum.. Pulanglah , dan datang kembali dengan 3syaratku tadi.. Ayah akan menunggu kedatanganmu kembali”

Doni pun pulang dengan mengantongi rasa kecewa, dia sudah terlanjur cinta sama Azeezah, sejak SMP sampai SMA. Azeezah gadis yg istimewa, dia cantik juga shalihah, selama ini Azeezah tidak pernah Pacaran, meski dia cantik dan banyak yang ingin jadi Pacarnya, Azeezah tak pernah tergoda.

Setelah menginjak bangku kuliah, Doni datang kembali karena dia merasa sudah dewasa, Doni pikir ayahnya pasti mengizinkan, tertnyata jawaban ayah tetap sama.
Setelah Doni bekerja dan memiliki penghasilan tetap, diapun datang kembali ke rumah Azeezah, namun jawaban yang Doni dapat tetap sama, namun.. dalam keputus asaan Doni bertanya kepada Ayah Azeezah :

“Bisakah Bapak jelaskan maksud dari ketiga syarat tersebut?”
“Lalu.. Ayah Azeezah pun menjelaskan..
1. Datanglah setelah kamu dewasa adalah..
Laki-laki dewasa tidak akan meminta seorang wanita yang dicintainya untuk menjadi pacarnya, melainkan dengan berani dan bertanggung jawab meminta dia menjadi isterinya. maka akan aku izinkan kau berpacaran dengan Azeezah tapi setelah ia menjadi isterimu yang sah.

2. Datanglah setelah engkau siap meminta izin pada Allah.
Yaitu ketika engkau telah siap mengucapkan akad suci, dan menjadikan perempuan yang engkau cintai menjadi isterimu. Zee memang anakku tapi aku tidak berhak mengizinkanmu, menyentuhnya.. atau melalaikan ia dari mengingat Allah dengan menjadi pacarmu, karena dia adalah milik Allah, maka mintalah izin dari Allah dengan menikah.

3. Datanglah setelah engkau mampu menjelaskan padaku apa saja hal2 yang haram dilakukan oleh org yang berpacaran.
Pergilah menuntut ilmu, perdalam ilmu agamamu, kenali siapa Tuhanmu. Jadilah lelaki yang shalih, maka tidak akan ada alasan bagiku untuk menolak lamaran dari seorang lelaki shalih yang menginginkan putriku menjadi bidadarinya.

Akhirnya.. Doni mengerti , kini dia meninggalkan rumah Azeezah dengan senyum merekah, Doni baru sadar bahwa selama ini dia hanya sibuk menuntut ilmu dunia. Dia baru sadar akan kelalaiannya.. sehingga dia memutuskan untuk masuk pesantren dan menuntut ilmu disana, selama di pesntren Doni menyadari betapa banyak kekhilafan yang ia lakukan karena kedangkalan ilmunya, hatinya masih mendambakan Azeezah, gadis shalihah yang pernah membuatnya rela melakukan apa saja demi mendapatkannya, namun kini dia lebih memilih pasrah dan menyerahkan segalanya kepada Allah.. Karena dalam keyakinan Doni saat ini adalah ” Jika Azeezah adalah jodoh yang Allah pilih untuknya, pastilah ia jadi miliknya.. Namun jika tidak, tentulah Allah yang paling tahu siapa yang paling pantas untuknya”

Alhamdulillah…
Doni kini menjadi pemuda yang shalih.. dia pun telah menjadi pejuang di jalan dakwah, hingga suatu hari tanpa sengaja dia bertemu dengan Ayah Azeezah.
“Assalamu’alaikum Don.. ‘(sapa ayah Zee dengan senyum khasnya)
“Wa’alaikumsalam Warahamatullah.. ‘( jawab Doni dengan senyum malu-malu)

“Sudah lama tidak datang ke rumah bapak Don? Sudah tidak ingin meminta izin kepada Allah untuk menjadi kekasih Azeezah??”

Doni terkejut..
” MashaAllah.. masih, pak.. masih ingin”(hati Doni begitu gembira )
“Kalau begitu Bapak tunggu kedatangan Doni bersama keluarga”^_^

“Subhanallah…
Percayalah… Kalau Allah berkehendak , dia pasti menjadi milik kita.
Maka jangan sia-siakan waktumu dengan sibuk berpacaran dengannya…
Sibukkan diri dengan perbaikan, bangunlah cinta kita pada Allah.. Yakinlah Allah akan memberikan yang terbaik, bagi hamba-Nya yang sabar dan bersungguh-sungguh mencintai-Nya”