Suatu senja di Sore Hari , Angin berhembus kencang ,Ombak berkejar-kejaran seolah tak membuat qu bergegas untuk pergi . Di Sore itu matahari yang mulai memerah memancarkan sinarnya seolah ingin secepatnya berubah menjadi  gelap malam. Yah… seperti inilah gambaran pantai di sore hari dengan keindahan matahari yang mulai terbenam . Aku masih duduk sendiri menerawang jauh sambil menikmati keindahan alam yang tiada tara jauh dari polusi dan debu seperti di kota qu tinggal “Jakarta”, em….. kota metropolitan dengan berbagai macam ragam nya, kemacetan, udara pengap,dan lain sebagainya. Ingin rasanya aku membuang masalah yang selama ini kupendam sendiri, Walaupun itu tidak mungkin namun setidaknya bisa terlupakan sejenak.

Tiba-tiba dari kejauhan seseorang menyapa qu :

Winda  : “Vi… ngapain kamu di sini sendirian, dicariin juga, eh malah nyantai disini…!” (Sapa Winda teman kantor qu yang sebel karena qu tinggal sendiri di kamar hotel tempat kami menginap)

Vivian  : “Eh winda,,, ni lagi menikmati pemandangan …  coba kamu liat jauh kesana bukan main indah bukan Sun Shine nya.”

Winda  : “Ia… ia qu juga tau kali vi,,, tapi kamu dicariin tuh sama bos ada yang mau dibicarain katanya.”

Vivian  : “Yah… kan sun shine nya belum ilang… eh iya emang si bos mau ngomongin apaan yach…!”

Winda  : “Mana Aqu tau, kangen kali ma kamu…!”

Vivian  : “Ah kmu win bisa aja mana mungkin si bos kangen sama bawahannya,”

Winda  : “Vi….vi…. semua orang kantor juga sudah tau kali kalau kamu sama bos pernah ada hubungan spesial.”

Vivian  : “Iya… tapi itukan dulu,,, masalalu jangan di ungkit2 lagi deh qu juga udah lupa tuh.”

Winda  : “Ah yang benner, nyatanya sampai sekarang kamu belum mau cari penggantinya kan, jangan bohong dh vi qu tau kamu dari tatapan matamu ke dia aja qu bisa tau kalau kamu tu masih menyimpan rasa… iya kan hayo ngaku aja deh…”

Vivian  : “Udah ah jangan ngarang dh… tatapan aqu itu sama siapa aja gitu x win, ya udh qu kesana dlu yach. Bye…”

Winda  : “Bye… hati-hati yach.”

Dalam perjalanan menuju ruangan bos hati qu bertanya tanya apa ya yang akan dibicarakan bos padaqu.

Vivian  : “Permisi Pak,,,”

Rendi   : (Dengan gagah n tatapan nya yang khas memandang qu dengan penuh wibawa walau dengan usia yang terbilang muda sama seperti qu dia sudah bisa menjadi seorang bisnisman yang sukses walaupun Cuma menjalankan perusahaan turun-temurun dari ayahnya namun memang sudah tidak diragukan lagi pengalamanya menjalankan perusahaan sama seperti pengusaha sukses lainnya)

Rendi   : “Kamu dari mana aja sich…”

Vivian  : “Ma’af pak saya tadi jalan-jalan dipantai.”

Rendi   : “Apa… kamu jalan-jalan ,,, kamu pikir aqu ajak kamu kesini buat jalan-jalan, kamu tau kan kita disini kerja dan kewajiban kamu menemani saya rapat dengan mitra kerja kita dari jepang apa kamu lupa… atau kamu memang sudah tidak berniat buat kerja lagi… iya…!!!” ( Dengan nada kasarnya randi membentakku)

Vivian  : (Terperanjat)”Ma’af pak tapi kan pertemuannya Pukul 07:00 malam nanti.”

Rendi   : “Tapi berkas-berkas nya sudah kamu siapin”

Vivian  : “Belum pak” ma’af, saya lupa, tapi saja janji saya akan memperbaikinya pak tolong beri saya kesempatan lagi pak.”

Rendi   : “Kali ini saya berikan kamu kesempatan lagi buat memperbaikinya tapi sekali lagi saya lihat kerjaan kamu tidak beres saya tidak akan segan-segan untuk memecatmu.” (Dengan Nada Keras)

Sebernarnya dulu rendi sangat baik dan perhatian terhadap vivi dan mereka sempat menjalin hubungan asmara  namun setelah vivi memutuskan hubungan asmara mereka tersebut  tanpa alasan, Rendi seketika berubah, vivi selalu dianggap tidak disiplin padahal semuanya sudah dilakukan vivi sampai harus lembur dan menemani Rendi bos nya itu untuk keluar kota demi pekerjaan dan rasa kasih yang masih ada dalam hati vivi dia merasa tidak ingin berpindah ke perusahaan lain, dan lagipula mencari kerja di kota Jakarta ini sangat sulit.Apalagi ayahnya yang sedang tidak sehat sekarang ini. Padahal vivi melakukan semua itu hanya semata karena ingin menjaga karirnya agar tidak dipecat oleh sang direktur utama yaitu ibunya rendi, Ibu rendi tidak pernah menyetujui hubungan vivi dan rendi oleh karena itu ibunya mengancam akan mengeluarkan vivi dari perusahaan kalau vivi masih berani menjalin hubungan asmara denga anaknya itu namun rendi tidak pernah tau kalau ibunya bertindak seperti itu kepada vivi karena ibunya selalu bermuka manis ketika bertemu vivi di depan rendi. Vivi pun diancam dan tidak boleh memberitahukan semua itu kepada rendi.

Pahit memang bekerja diperusahaan yang didalamnya tidak ada keramahan dari sang atasan namun vivi merasa tidak ada pilihan lain selain tetap bertahan. Dia hanya mencoba untuk sabar dan menahan rasa sakit dihatinya apabila mendengar rendi sang atasan yang kasar dan pemarah apalagi padanya orang yang masih sangat mencintainya.

Rendi   : ( Manggumam : ”Vi Ma’afkan aqu atas perlakuan qu padamu semua ini qu lakukan karena aku ingin melupakan semua kenangan manis bersamamu karena kau telah tega menyakitiku dengan menduakan aqu,” (Rendi tidak pernah tau kalau orang yang pernah dilihatnya kencan dengan vivi itu adalah tunangan winda yang dimintai tolong oleh vivi agar rendi percaya kalau ia telah menduakan cintanya))

Vivian  : (Menunduk dengan mata yang berbinar-binar menuju pintu kluar dari ruangan dimana rendi berada , dan setelah kluar dari pintu vivi pun berlari menuju ke kamar iya tak sanggup menahan air matanya yang akan segera tumpah mendengar perkataan kasar rendi dan sesampainya dikamar vivi menghempaskan tubuhnya di kasur dan meluapkan emosinya.)

Winda : (Baru keluar dari kamar mandi dan terkejut melihat vivi yang sedang menangis sedu) “Vi… kamu kenapa?… Rendi marah lagi ya… duh… udah donk vi,,, qu juga jadi ikut2an sedih nih…”

Vivian : (Bangun dan langsung memeluk sahabtnya winda) ”Win rasanya aku sudah gak sanggup lagi menghadapi kemarahan rendi,,, kapan semua ini berakhir win,,, kapan…”(Menangis)

Winda : “Iya Vi,,, aku tau gimana rasanya dikasarin ma orang yang kita sayang, tapi kamu harus selalu sabar ya… ingat kamu masih punya aku dan papamu yang selalu ada buat kamu,mensuport kamu dalam keadaan apapun…OK.”

Vivian : “Iya win,,,makasih ya… kamu memang sahabatku yang paling mengerti aku.”

Winda : “Ya udah klo gtu hapus donk air matanya… jelek tau…” ^_^ (Ledek Winda )

Vivian : “Ih…winda .. paan sih,,, temen lagi sedih juga,,,dibecandain…”

Winda : “Hem… iya deh… ya uda mandi sana… ingat jam 7 pertemuan lho,,,”

Vivian : “Iya sahabatku sayang…” (Sambil berpelukan)

Tepat jam 07:00 WIB Vivian,Winda,Rendi,Alex dan Mr.Matsuki memulai rapatnya dengan hikmat, dan mereka berhasil mengambil hati Mr.Matsuki u/ memberikan project kerja yang lumayan besar. Dan semua itu berkat ketelatenan Vivi menjelaskan program kerja yang bagus sehingga Mr.Matsuki menyetujui untuk menyerahkan project nya ke perusahaan Rendi.

Vivian memang gadis yang cerdas dan berkompeten dalam pekerjaannya. Namun Rendi masih bertindak semaunya walaupun keberadaan vivianlah yang selalu membawa hoki dalam setiap pertemuan mereka dengan berbagai pengusaha luar seperti Jepang,Malaysia,Singapure, dsb.

Selepas dari rapat yang lumayan menegangkan tersebut vivian bermaksud untuk pergi ke luar untuk menikmati pemandangan kota bandung yang dingin namun indah itu, namun tiba-tiba saja ketika vivi dan winda akan menaiki taksi, rendi datang dan mengajak vivi masuk ke mobilnya. Tentu saja vivi kaget dengan perlakuan rendi tersebut dan termenung sejenak. Namun vivi tidak bisa menolak kemauan atasannya tersebut dan membatalkan acara yang sudah direncanakannya dengan winda, winda pun sebagai sahabat mau mengerti dengan keadaan yang seperti itu dan merelakan sahabatnya pergi dengan bosnya yang lumayan menyebalkan tersebut dengan mengingatkan kepada vivi untuk selalu sabar menghadapi Rendi.

Vivian : (Bergegas masuk ke mobil Rendi ) “Kita mau kemana lagi pak? Apa ada pertemuan lain?”

Rendi : “Ngak…kita gak ada metting lain ko,!”

Vivian : “Trus…?“ (Tanya vivi heran)

Rendi : “Trus saya gak boleh ajak kamu jalan-jalan!” (Sedikit kasar)

Vivian : (Terperanjat dan diam) “Eh…iya pak,,, boleh,,boleh… maaf!”

Rendi : (Acuh tak acuh)

Di dalam mobil mereka terlihat sibuk dengan dirinya masing-masing ,rendi sibuk dengan handphone genggamnya yang super canggih dan vivi hanya termenung dan melihat keramaian dari jendela kaca mobil , entah apa yang ada di benak vivi, perasaan bingung dan penuh tanda tanya dengan apa yang akan dilakukan oleh bosnya tersebut kepadanya, mereka berdekatan namun masih terasa jauh dan sangat asing bak tidak mengenal satu sama lain.

Dan setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit, mereka sampai di sebuah pusat perbelanjaan mewah di Bandung, dan mereka pun turun dari mobil tanpa mengucapkan satu patah katapun. Turun dari mobil dan vivi hanya mengikuti arah kemana rendi akan membawanya dan akhirnya rendi berhenti di sebuah pameran berlian.Vivi makin heran dengan perlakuan rendi, dan bertanya-tanya apa yang akan dilakukan rendi di toko perhiasaan tersebut.setelah lama melihat-lihat  tiba-tiba rendi menetapkan pilihan pada sebuah cincin berlian yang sangat indah dan mewah.

Rendi : “Bagaimana dengan yang ini, kamu suka?” (Rendi bertanya kepada vivi)

Vivian : “Haa…maaf pak…bapak menanyakan ini ke saya?” (tanya vivi bingung)

Rendi : “ Iya pada siapa lagi… ya kamu lah? Bagaimana menurutmu?”

Vivian : (Dengan perasaan yang campur aduk,bingung dan mulai GR kalau2 seandainya rendi membelikan cincin itu untuknya) “Em… iya… bagus pak… indah dan mewah.”

Rendi : (Menunjuk ke arah cincin lain) “Kalau yang ini gmn?”

Vivian : “sama pak…yang ini juga bagus,,,”

Rendi : “Bagus semuanya… tapi klo menurut kamu yang paling bagus yang mana?”

Vivian : “Kalau menurut saya yang pertama tadi lebih bagus pak,,, lebih indah,berwarna dan siapa yang memakainya akan menjadi semakin cantik.”

Rendi : “Coba… siniin deh tangan kamu…”

Vivian : “Apa pak… tangan saya…” ( dengan Gemetarnya vivi menjawab)

Rendi : “Sini…lama banget sih…” (Rendi meraih tangan kiri vivi dan memasukan cincin tersebut ke jari manis vivi, tentu saja vivi menjadi malu dan terbawa suasana dan mengira kalau rendi akan memberikan cincin itu kepadanya)

(Bersambung ke Bagian 2)