Dengan perasaan tak enak hati rendipun pergi dari kamar dimana ayah vivi dirawat, dan kemudian winda masuk dengan membawakan vivi makanan, winda yakin sahabatnya itu pasti belum makan karena kondisi ayahnya yang menurun. Benar-benar sahabat yang paling baik.

Keesokan harinya Rendi memilih untuk tidak bekerja dan menemani vivian di rumah sakit.dia datang dengan membawakan buah dan makanan untuk vivi, karena dia yakin vivi belum makan pagi itu.

Rendi : (Mengetuk pintu)

Vivian : “Masuk. Eh pak rendi, bapak kesini lagi,,, emangnya bapak gak kerja hari ini.”

Rendi : “Ngak,,, saya ingin menemani kamu menjaga om,,, aku yakin kamu pasti kecapeean kan.”

Vivian : (Heran karena rendi mulai berbicara dengan aku kamu seperti waktu mereka pacaran dulu) “gak apa-apa pak,,, saya udah biasa ngerawat ayah sendiri ko…!”

Rendi : “Itu dulu,,, sekarang aku akan ada disini untuk om arman…”

Vivian : “Iya pak… terima kasih.”

Rendi : “Oh iya… ini aku bawain bubur ayam kesukaan kamu,,, kita makan bareng-bareng yuk mumpung masih anget. Kamu pasti belum makan kan…!”

Vivian : (Masih keheranan dengan perlakuan rendi yang tiba-tiba berubah ternyata rendi masih ingat makanan kesukaan vivian) “Baik pak… mari…”

Rendi : “Sebaiknya sekarang kamu jangan panggil saya bapak lagi deh ini kan bukan di kantor, panggil saya rendi aja ya…”

Vivian : “Tap…tapi…pak…”

Rendi : (Menutup bibir vivi dengan dua jari tanganya membuat vivi berhenti bicara) “Nggak ada panggilan bapak…panggil aku rendi… ok”

Vivian : “Baik… em… Rendi.”

Rendi : “Nah gitu donk! Kan enak didengarnya…”

Mereka berduapun mulai makan dan berbicara banyak,seolah-olah baru bertemu teman lama,padahal selama ini mereka berada dalam 1 kantor yang sama. Hem… membingungkan….

Tidak lama kemudian,,, Ayah Vivi menggerakkan tangannya dan perlahan-lahan membuka matanya.Vivi dan rendi merasa senang dan rendi pun segera memanggil dokter sementara vivi menemani ayahnya yang mulai ingin berbicara.Setelah dokter sampai,,, vivi dan rendi disuruh menunggu diluar sementara dokter mencoba untuk memeriksa kondisi kesehatan Ayahnya.

Vivi dan rendi mulai gelisah menunggu dokter keluar dari ruangan untuk mengetahui perkembangan kesehatan ayahya, dan akhirnya dokter keluar dan  dengan ekspresi sedih dokter tersebut menggelengkan kepala.pertanda kalau ayahnya tidak akan bertahan lama lagi,dan ayahnya ingin berbicara dengan vivi dan Rendi.Vivi kembali sedih dan segera mendatangi ayahnya yang sudah sekarat itu.

Vivian : “Pa… ini vivi pa…vivi disini…vivi disini untuk papa…papa cepat sembuh ya…”

Ayah   : “Vi… kamu jaga diri baik-baik ya nak… papa merasa bahwa umur papa tidak lama lagi…”

Vivian : “Pa… vivi mohon jangan bicara seperti itu pa,,, papa gk akan kemana-mana kan, papa gak akan ninggalin vivi kan… vivi gk punya siapa-siapa lagi selain papa…”

Rendi : (Berusaha menenangkan vivi)

Ayah : “Rendi…”

Rendi : “Iya om,,, ini rendi…”

Ayah : “Sudah lama kamu tidak mengajak om bermain catur ren…”

Rendi : “Iya Om… Maafkan rendi… Rendi sibuk…”

Ayah : “Ren…om boleh minta sesuatu sama kamu?”

Rendi : “Iya om…boleh”

Ayah  : “jagain vivi,,, om gak mau dia kesepian setelah om pergi…”

Rendi : “Baik Om,,, Rendi janji rendi akan jaga vivi buat om.”

Ayah  : “Vi….”

Vivian : “iya pah…”

Ayah :  “Papa sayang vivi…”

Vivian : “Iya pah… Vivi juga sayang Papa…”

Tak Lama kemudian suasana senyap… Ayah vivi sudah tidak bergerak lagi, monitor berbunyi datar dan memberi tanda horizontal… dokter segera memeriksa dan ternyata ayah vivi telah tiada.Seketika itu juga vivi menjerit kehilangan, ia belum siap ditinggal pergi oleh ayahnya,,, rendi berusaha menenangkan vivi dengan memeluknya erat.

Keesokan harinya pemakaman berlangsung khidmat, vivi sudah mulai tenang dan mengikhlaskan sang papa, karena sejak kemarin rendi dan winda selalu ada di sampingnya menghiburnya, sekarang vivi sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi, dia menjadi Yatim-Piatu setelah kepergian orang tuanya…

Demi menjaga dan menemani vivi winda pindah dari kosnya dan tinggal bersama vivi di rumah peninggalan ayahnya yang lumayan besar itu, karena dulunya vivi adalah anak dari pengusaha kaya dan terkenal, hanya saja prilaku karyawannya yang korupsi yang membuat mereka bangkrut dan segala aset habis untuk membiayai pengobatan sang ayah sejak mengidap penyakit jantung 1 tahun yang lalu.dan kini hanya rumah itu lah satu-satunya kenangan vivi dengan kedua orang tuanya, sebab itulah ia berjanji pada dirinya sendiri sesusah apapun dia,dia tidak akan pernah menjual rumah itu.

Di lain hal ternyata ibu rendi sudah mengetahui bahwa rendi kembali mendekati vivi, karena ternyata alex yang selama ini menjadi teman vivi dan winda di kantor adalah mata-mata yang disuruh oleh ibu rendi untuk mengetahui segala apa yang terjadi dengan vivi dan rendi. Alex juga diam-diam menaruh hati kepada vivi yang selama ini hanya mencintai rendi, karena penolakan itulah alex memutuskan untuk bekerjasama dengan ibu rendi untuk memisahkan rendi dan vivi. Sampai pada saat rendi kembali mendekati vivi mereka berdua menyusun rencana bahwa alex akan menghancurkan kehidupan vivi dan kemudian akan menikahi vivi agar rendi dan vivi tidak bisa hidup bersama tentu saja dengan imbalan yang besar dari ibu rendi.

Tak terasa sudah 3 hari selepas kepergian Ayahnya vivi masih sering melamun dan bersedih dengan kepergian ayahnya. Sudah 3 hari pula ia belum kembali bekerja. Ia lebih sering menghabiskan waktu di rumah, Winda selaku sahabatnya juga tak mampu menghibur vivi dan memilih untuk membiarkan vivi untuk sendiri dulu, lain halnya dengan rendi yang tidak bisa terlalu lama meninggalkan pekerjaannya, walaupun ia sebenarnya ingin sekali berada di samping vivi saat ini.

Dan pada suatu ketika tunangan winda datang dari Australi dan menemui winda di Jakarta dengan maksud segera merencanakan pernikahan mereka, Lian tunangan winda yang dulunya membantu vivi untuk meyakinkan bawa dirinya telah berselingkuh dengan lelaki lain supaya rendi menjauhi vivi. Kedatangan lian ke Jakarta selain untuk mempersiapkan pernikahannya dengan winda juga untuk menjenguk vivi yang saat ini sedang berduka  , Lian juga merupakan teman akrab vivi dan winda ketika masih duduk di Sekolah SMA . Hanya saja setelah mereka lulus lian lebih memilih melanjutan kuliah di Australi dan akhirnya bekerja di sana.

Pada suatu ketika disaat lian dan winda jalan berdua di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Rendi yang pada saat itu sedang makan siang tak sengaja melihat dan ingat kalau lelaki yang bersama winda sekarang adalah selingkuhan vivi dulu, Oleh sabab itu dengan tanpa pikir panjang lagi rendi mendekati lian dan langsung memukul lian. Lian dan Winda kaget dengan kedatangan rendi yang tiba-tiba dan winda langsung melerai rendi yang emosi tersebut.

Rendi : “Bajingan lo,,, dulu lo pacaran sama vivi sekarang kamu mau selingkuhin vivi dengan sahabatnya sendiri…”

Winda : “Ren…Rendi… kamu salah paham… sabar dulu ren…biar kita jelasin apa masalah sebenarnya…ok”

Lian   : (Masih bingung dengan serangan rendi dan mencoba tenang)

Rendi : (Menghela Nafas panjang) “ok… sekarang apa yang akan kalian jelaskan… kalau memang benar lo ngancurin hatinya vivi…Abis lho…!” (Ancam Rendi kepada Lian)

Winda : “Udah donk ren… kamu duduk dulu deh, tenangin diri dulu biar aku yang jelasin…ok…”

Rendi : (Hanya diam dan duduk detengahi oleh winda)

Winda : “Gini Ren,,, semua ini hanya salah paham, semuanya Cuma sandiwara ren,,, sebenarnya lian ini memang tunangan aku dari dulu dari waktu kamu melihat dia berduaan dengan vivi…”

Rendi : “Maksudnya apa…? aku gak ngerti!”

Wendi : “Iya ren, aku tau kamu pasti bingung dengan semua ini, semua ini hanya rekayasa kami bertiga ren agar kamu dan vivi berpisah, aku,lian dan vivi sepakat untuk membuat adegan seolah2 lian adalah selingkuhan vivi, dan semua itu bohong ren, semua yang kamu liat waktu itu bohong, semuanya sandiwara, vivi tidak pernah selingkuh dari kamu, berfikir untuk itu pun ia gak pernah ren, vivi sangat mencintai kamu. Dan dia masih sangat mencintai kamu sampai saat ini ren…”

Rendi : “Tapi kenapa win,, kenapa kalian merekayasa ini semua…?”

Winda : “Semua ini karena ibu kamu ren…!”

Rendi : “Apa…?  Mama…! gak mungkin, emang kenapa dengan mama?” (tanya rendi bingung)

Winda : “Iya ren,,, ibu kamulah yang merencanakan ini semua, ibu kamulah yang menginginkan kalian berpisah, …Waktu itu ayah vivi sekarat dan harus segera dioperasi,,, sementara sebelum operasi vivi harus lebih dulu menyelesaikan biaya administrasi, dan pada waktu itu vivi sudah kehabisan biaya ren, sampai akhirnya ibu kamu datang dan memberikan tawaran uang kepada vivi namun dengan syarat vivi harus menjauhi kamu … Aku tau itu pilihan yang sangat berat buat vivi, tapi vivi gk tega melihat ayahnya yang menderita akibat penyakit yang dideritanya, sampai akhirnya vivipun menyetujui persyaratan itu.dan operasi itupun berhasil ayah vivi dinyatakan membaik oleh dokter, vivi begitu gembira mendengar kabar tersebut, walaupun ternyata ia harus kehilangan kamu.”

Rendi : “Mama… mungkinkah,,, tapi kenapa kalian tidak pernah memberitahuku, kenapa aku harus membenci vivi dengan kesalahan yang tidak dibuatnya.”

Winda : “Maafkan kami ren,,, tapi kami harus melakukan ini, kalau tidak ibumu mengancam akan mengambil kembali apa yang sudah ia berikan kepada vivi dan akan memecat vivi dari pekerjaannya.”

Rendi : (Perasaan marah dan pergi begitu saja)

Winda : “Kamu mau kemana ren…?”

Rendi : “Aku akan menemui mama dan meminta penjelasannya…!”

Winda : “Ren…Tunggu…!!!”

Namun rendi tidak menghiraukan panggilan winda dia terus berjalan dengan emosi yang sedang meluap-luap.

Di lain sisi vivi yang sedang berada dirumahnya yang sedang melamun di taman, dan tidak mengetahui kalau ada orang yang menyelinap masuk kerumahnya,,,dia adalah Alex yang berencana menculik vivi. Vivi yang masih larut dalam kesedihannya seketika dibius dan pingsan tak sadarkan diri. Kemudian alex membawannya kerumahnnya. Dan pada saat winda dan lian pulang k rumah vivi, mereka sudah tidak menemukan vivi, melainkan hanya sendal vivi yang jatuh berserakan di taman, winda yakin vivi sedang dalam bahaya dan seketika itu pula winda langsung menghubungi rendi dan memberi kabar kalau vivi tidak ada dirumah. Rendi yang saat itu baru saja tiba di rumahnya kaget dan langsung menenangkan winda dan berjanji akan segera mencari vivi, sementara itu rendi ingin bicara terlebih dahulu dengan mamanya.

Siang itu mama rendi sedang minum teh di taman ruang belakang, Rendi datang dan langsung memergoki mamanya yang sedang berbicara di telpon dengan alex yang menyebut-nyebut nama vivi.

Rendi  : “Ma…”

Mama : (Menolah dan kaget begitu melihat rendi ada di hadapannya dan langsung memutuskan telpon) “Rendi… Kamu sudah pulang nak…?” (Seolah tidak tahu apa-apa)

Rendi  : “Ma… mama tau dimana vivi sekarang kan… Ayo jawab ma…!”

Mama : “Kamu bicara apa nak,,, mama gak ngerti… Ayo kamu duduk dulu deh…!”

(Bersambung ke Bagian 4)