Rendi  : “Ma… rendi sudah tau semuanya mah,,, rendi sudah tau semua perbuatan mama yang mama lakukan k vivi…”

Mama : “Rendi…mama gk berbuat apa-apa…kamu pasti salah paham… mama gak ngapa-ngapain vivi ko’.” (Pura-pura tidak tahu)

Rendi  : “Winda,,,sahabatnya vivi yang membocorkan semua rahasia mama,,, apa sih ma yang mama inginkan,,,, rendi sudah melakukan apa saja yang mama inginkan, tapi mama malah menjauhkan rendi dari wanita yang rendi sayang ma,,, mama sadar gak selama ini rendi sakit mah, harus menerima kenyataan kalau vivi selingkuh. Dan ternyata mama yang ada dibalik semua ini, mama kan yang menyuruh vivi menjauhiku dengan syarat membiayai operasi papanya,,,mama juga kan yang mengancam akan memecat vivi kalau dia masih berniat menghubungi aku…iya kan ma… ayo jawab ma…”

Mama  : “Iya,,, memeng mama yang melakukan semua itu,,, tapi itu semua untuk kebahagiaan kamu nak, mama gak mau kamu berhubungan dengan wanita miskin,,, mama ingin kamu menikah dengan wanita yang sederajat dengan kita nak…Tolong mengerti mama nak…”

Rendi : “Nggak ma,,, rendi gak akan pernah lagi meninggalkan vivi… rendi gak peduli dengan status sosial rendi dan vivi,,, kalau perlu rendi yang akan pergi dari kehidupan mama,,, rendi akan pergi dari kekayaan mama yang melimpah…hanya untuk bersatu dengan vivi…”

Mama  : “Apa nak…! kamu rela meninggalkan mama demi wanita itu,,, kamu tega sama mama sayang… ingat nak,,, mama yang melahirkan kamu, membesarkan kamu,memberi kamu segala yang kamu mau, dan memberi kamu kasih sayang…”

Rendi : “Maaf ma,,, rendi tidak akan meninggalkan mama kalau mama tidak berbuat jahat kepada vivi dan mau menerima vivi kelak menjadi menantu mama…”

Mama : “Mama mohon sayang jangan tinggalkan mama nak…mama mohon…!”

Rendi : “Rendi akan kembali apabila mama mau berubah dan menerima vivi apa adanya… Maaf ma rendi pergi…”

Rendi Kemudian berlalu meninggalkan ibunya yang masih meratap sedih tidak ingin ditinggalkan oleh rendi, sementara rendi harus buru-buru mencari vivi.

Disisi lain Vivi yang tidak sadarkan diri dibangunkan oleh alex dengan menyiramkan air ke wajahnya. Vivi pun tersadar dan mendapati dirinya sedang berada di sebuah kamar yang tidak ia kenali dan dia pun melihat keberadaan alex disampingnya.

Vivian : “Alex… kenapa kamu disini,,, ini dimana,,,!”

Alex    : “Vivi sayang,,, selamat datang di rumahku dan ini adalah kamarku,,,kamar kita sayang…!” (Bergumam dengan nakalnya)

Vivian : (Mulai mengingat kejadian terakhir ketika ada seseorang yang menutup mulutnya menggunakan sapu tangan dan menduga kalau alex yang melakukannya) “Alex… kamu apa-apaan sih… kamu yang tadi kerumah aku, dan sekarang kamu nyulik aku… lek jangan bercanda deh ah… udah aku mau pulang…” (Bergegas berdiri dan mencoba berjalan keluar namun alex menahan tangannya)

Alex  : “Kamu mau kemana sayang…kamu gak boleh kemana-mana sekarang…!!!” (Dengan Seringai nakalnya kemudian bergerak menuju pintu kamar lalu menguncinya)

Vivian : (Mulai takut) “Lex… kenapa pintunya dikunci,,, kamu mau ngapain…”

Alex   : (Mendekati vivi dan mulai bertingkah nakal, alex merenggut rambut vivi,,, sambil berkata) “Kamu pikir aku berbohong,kamu pikir aku bercanda…hah…. kamu tau vi, selama ini aku mencintai kamu, tapi tak sediktpun kamu membalas perasaanku,,, aku sakit vi,,,kamu tau…aku sakit dengan tingkah mu yang selalu lebih mencintai rendi… aku benci randi… dan ketika ibu rendi menawarkan kerja sama… aku pun menerimannya dengan senang hati agar kamu dan rendi tidak akan pernah bersatu untuk selamanya… dan sekarang nikmatilah kesenangan kita vi,,, tidak ada siapa-siapa disini ,,, hanya kau dan aku…. kita hanya berdua sayang… hahahaha….”

Vivian  : (Vivi ketakutan, air matanya berlinangan) “Lex…aku mohon…maafkan aku, dan lepaskan aku lek aku mohon…” (Pujuk vivi memelas kepada alex)

Alex   : “Aku tidak akan melepaskanmu vi,,, tidak akan,,, aku akan merenggut kehormatanmu dan setelah itu… aku akan menelantarkanmu… hahahaha…”

Vivian : (vivi berusaha lepas dari alex, dan mendorong alex sekuat tenaganya, alex tersungkur di lantai dan vivi berusaha meraih pintu dan mencoba membukanya,namun sayang pintu itu terkunci dan alexpun bangun dengan sigapnya dan menangkap tubuh mungil vivi yang berada di depan pintu lalu kemudian vivi disandarkan di pintu dengan wajah menghadap alex, Vivi menangis, meronta agar alex mau melepaskannya, vivi menjerit minta pertolongan namun tak ada jawaban,,, )

Alex   : “Kamu pikir bisa semudah itu lepas dari aku… hah…”(Sambil menahan tangan vivi ke dinding)

Vivi tidak tinggal diam,,, kakinya seketika menendang kearah selangkangan alex sehingga alex menjerit kesakitan dan melepaskan belenggunya, sementara itu vivi berusaha mengambil kunci pintu yang jatuh di bawah lemari kamar tersebut dengan terburu-buru,,, tiba-tiba alex kembali bangun dan menarik tubuh vivi dan mendorongnya sehingga vivi jatuh mengenai meja,,,kepalanya berdarah namun vivi tetap berusaha bangkit, tapi belum sempat vivi bangkit alex kembali mengangkat tubuh lemah vivi dan kali ini alex melemparkan tubuh mungil vivi ke ranjang dan mulai menindih tubuh vivi sehingga vivi tidak bisa bergerak melawan lagi, setiap perlawan vivi dibalas kekerasan oleh alex, hingga kini vivi benar-benar tidak berdaya, vivi hanya mampu memelas memohon agar alex melepaskan dirinya, namun sayang alex sudah tidak bisa terkontrol lagi,,, dia memanfaatkan kelemahan vivi dengan menciumi bibir,leher dan mencoba melepaskan baju yang dikenakan vivi,,, sampai akhirnya rendi datang dan langsung mendobrak pintu kamar alex hingga rubuh. Rendi pun dengan segera meraih alex dan memukulnya berulang-ulang sampai alex babak belur dan saat itu juga winda dan lian datang dengan membawa polisi untuk membekuk alex. Alex yang sudah tak berdaya pun dibawa oleh polisi dengan tuduhan kekerasan dan pelecehan seksual.

Setelah rendi puas melampiaskan emosinya kepada alex,,,rendipun menghampiri vivi yang masih duduk menagis di ranjang tempat ia akan diperkosa oleh alex, Rendi mendekati vivi dan vivi pun langsung memeluk rendi erat.

Vivian  : “Aku takut ren… Aku takut…” (Sambil menangis dipelukan rendi)

Rendi  : “Iya sayang,,, udah kamu jangan nangis lagi yach… ada aku disini…”

Rendi melepaskan pelukannya dan menghapus air mata vivi, Vivi yang terlihat berantakan pun tangis nya mereda dengan perlakuan rendi padanya, kemudian rendi membuka jacket yang dipakainya untuk dikenakan ditubuh vivi karena sebagian baju vivi robek akibat ulah alex, Rendi segera membawa vivi ke rumah sakit untuk segera diobati karena luka di kepala dan tubuhnya yang memar-memar karena dipukul oleh alex saat ia mencoba melawan. Dirumah sakit dokter berpesan agar vivi hanya perlu istirahat dan menenangkan pikiran untuk menyembuhkan luka memarnya dan menghilangkan rasa shock yang dideritanya.

Beberapa hari kemudian Rendi tidak pernah pulang kerumah, ia hanya selalu berada disisi vivi untuk merawat dan menjaganya, hingga suatu hari ketika rendi membawanya ke taman vivi menanyakan sesuatu padanya.

Vivi   : “Ren… Beberapa hari ini kamu hanya menemani aku dirumah, apa kamu tidak pulang, apa kamu tidak ke kantor untuk kerja dan apakah tiara tidak merasa kesepian karena selalu kamu tinggal???”

Rendi  : “Vi… Aku sudah tidak tinggal dirumah itu lagi, aku sudah tidak bekerja di kantor mama lagi aku hanya akan berada disini… buat kamu.”

Vivian  : “Kenapa ? apa yang terjadi dengan rumahmu dan perusahaan mama mu ren?”

Rendi   : “Vi… sekarang aku bukan rendi yang dulu lagi, sekarang aku bukan rendi yang meninggalkan kekasihnya hanya demi hartanya lagi,,, sekarang aku adalah rendi yang baru, rendi yang sangat menyayangi  kamu. Aku sudah tahu semuanya vi, aku tau apa yang telah mama lakukan padamu, oleh karena itu aku meninggalkan rumah dan perusahaan, agar mama sadar kalau cinta tak mengenal status sosial dan aku rela hidup miskin asalkan aku bersama kamu vi.Aku janji…”

Vivian : “Tapi ren… kamu masih punya tiara… kamu gak boleh meninggalkan dia begitu saja demi aku…”

Rendi  : “Hem… Tiara… siapa tiara… aku gak pernah punya pacar yang bernama tiara vi…”

Vivian  : “Lho… kan…waktu itu kamu sendiri yang bilang kalau kamu mau bertunangan dengan tiara dan membelikan ia cincin.”

Rendi  : “Sayang… tiara itu gak ada, yang ada itu kamu,,, mutiara terindah dalam hidup aku,,, kamu mau kan menikah denganku.” (Sambil mengeluarkan cincin berlian yang dibelinya di bandung ketika bersama vivi)

Vivian  : “Em… kamu yakin…mau menikah dengan aku…!”

Rendi  : “Yakinnnnnnnnnnn…………. banget…”(Senyum)

Vivian  : “Iya ren… aku mau…”

Mereka berdua pun hanyut dalam cinta, rendi langsung memakaikan cincinnya tersebut di jari manis vivi,dan rendi mencium tangan dan kening vivi sebagai tanda kalau ia sangat menyayangi vivi.

Di lain hal ibu rendi sadar dengan semua kesalahannya dan mendatangi rendi dan vivi untuk minta maaf dan ia juga berharap rendi mau kembali kerumah dan menjalankan perusahaannya kembali, ibu rendi sangat menyesali segala perbuatannya. Rendi dengan senang hati memaafkan kesalahan ibunya begitu pula dengan vivi, ibunya pun merestui hubungan mereka berdua hingga akhirnya mereka berdua hidup bahagia,damai dan tentram.Inilah Buah dari kesabaran yang vivi lakukan selama hidupnya.

 

 

SELESAI